Iklan

PENBOX 2014

Soe Hok Gie

GIE.jpgSoe Hok Gie adalah Orang keturunan China yang lahir pada 17 Desember 1942. Seorang putra dari pasangan Soe Lie Pit —seorang novelis— dengan Nio Hoe An. Soe Hok Gie adalah anak keempat dari lima bersaudara keluarga Soe Lie Piet alias Salam Sutrawan, Soe Hok Gie merupakan adik dari Soe Hok Djie yang juga dikenal dengan nama Arief Budiman.
Soe Hok Gie tercatat sebagai mahasiswa Universitas Indonesia dan juga merupakan salah satu pendiri Mapala UI. Alasan didirikannya organisasi tersebut dikarenakan jenuh dengan situasi yang penuh intrik dan konflik politik di kalangan mahasiswa waktu itu. Salah satu kegiatan terpenting dalam organisasi pecinta alam tersebut adalah mendaki gunung. Gie juga tercatat menjadi pemimpin Mapala UI untuk misi pendakian Gunung Slamet, 3.442m.
Gie meninggal di Gunung Semeru sehari sebelum ulang tahunnya yang ke-27 (16 Desember 1969) akibat gas beracun. Dia meninggal bersama rekannya, Idhan Dhanvantari Lubis. Pada tanggal 24 Desember 1969 Gie dimakamkan di pemakaman Menteng Pulo, namun dua hari kemudian dipindahkan ke Pekuburan Kober, Tanah Abang. Tahun 1975 Ali Sadikin membongkar Pekuburan Kober sehingga harus dipindahkan lagi, namun keluarganya menolak dan teman-temannya sempat ingat bahwa jika dia meninggal sebaiknya mayatnya dibakar dan abunya disebarkan di gunung. Dengan pertimbangan tersebut akhirnya tulang belulang Gie dikremasi dan abunya disebar di puncak Gunung Pangrango.

Anatoli Nikolaevich Boukreev

anatoli.jpg

Mountains are not Stadiums where I satisfy my ambition to achieve, they are the cathedrals where I practice my religion.” ― Anatoli Boukreev

merupakan yang menjadi salah satu arsitek kesuksesan Indonesia sebagai Negara Asia Tenggara petama yang mencapai puncak dunia dengan Tim Ekspedisi Everest Indonesia yang merupakan gabungan dari pendaki-pendaki sipil (Wanadri, Mapala UI, FPTI, Rakata) dan militer (KOPASSUS) yang sebagian besar belum pernah melihat dan menyentuh salju

Anatoli Nikolaevich Boukreev  [16 Januari 1958 – 25 Desember 1997] pendaki profesional Kazakhstan, Rusia. Pendaki yang telah melakukan pendakian tujuh puncak dari 14 puncak 8000-an tanpa bantuan tabung oksigen. Dengan catatan 18 kesuksesan mendaki puncak-puncak 8.000 sepanjang tahun 1989 hingga 1997. Mendapat reputasi sebagai pendaki elit internasional, untuk pendakian K2 tahun 1993 dan Everest lewat rute North Ridge, tapi semakin terkenal sejak melakukan tindakan penyelamatan secara heroik pada tragedi Everest 1996.

Boukreev lahir di Korkino, Uni Soviet. Ia berasal dari Narod, terlahir dari keluarga biasa dari orang tua yang cukup miskin. setelah menamatkan sekolahnya tahun 1975, ia kuliah ke Univ. Chelyabinks, mengambil jurusan keguruan/pendidik ilmu fisika dan meraih gelar sarjanannya tahun 1979. Pada tahun yang sama ia juga menamatkan pelatihan program ski cross-country.

Tragedi Everest 1996

Boukreev menjadi dikenal sebagai pemandu utama bagi ekspedisi Mountain Madness yang dipimpin Scott Fischer pada Mei 1996. Timi ini meruapakan salah satu tim dari beberapa tim ekspedisi yang hendak mencapai puncak Everest pada hari itu, yakni 10 Mei. Beberapa saat usai menggapai puncak, pada 10 Mei itu, badai bencana melanda. Banyak pendaki yang terjebak di dekat puncak sepanjang malam, dan sebelum tanggal 11 Mei, delapan pendaki dari tiga tim ekspedisi yang berbeda tewas. Boukreev berhasil menyelamatkan tiga pendaki yang terjebak di ketinggian di atas 8000 mdpl, dan enam dari semua klien pendakian ekspedisi Mountain Madness mampu bertahan dari ekspedisi penuh cobaan itu.

Galen Rowell menggambarkan upaya penyelamatan Boukreev ini di Wall Street Journal sebagai: “Salah satu penyelamatan yang paling menakjubkan dalam sejarah pendakian. Dilakukan seorang diri beberapa jam setelah mendaki Everest tanpa oksigen …”

Avalanche di Annapurna

Pada tahun 1997, Boukreev adalah penerima penghargaan David A. Sowles Memorial Award. Diberikan oleh American Alpine Club. Salah satu klub pendaki tertua di Amerika Serikat. Disampaikan kepadanya oleh Jim Wickwire, orang Amerika pertama yang berhasil menggapai puncak K2. Penghargaan ini adalah penghargaan tertinggi American Alpine Club, atas keberaniannya dalam menyelamatkan pendaki di tragedi Everest 1996. Usaha Boukreev itu disebut sebagai Amazing Resque, sementara ia dijuluki the Ghost of Everest. Tiga minggu kemudian, Boukreev sudah berusaha memanjati sisi selatan Annapurna I, 8.091 m (26.545 ft) bersama Simone Moro, pendaki Italia. Mereka didampingi Dimitri Sobolev, pembuat film dari Kazakhstan yang mendokumentasikan usaha itu.

Pada 25 Desember, sekitar tengah hari, Boukreev dan Moro sedang memperbaiki tali di Couloir, sekitar 5.700 m (18.700 kaki). Tiba-tiba, sebuah tebing es besar pecah, luruh dari ketinggian dinding Barat Annapurna Western Wall. Avalanche bergemuruh turun dari 800 m ( 2.600 ft ). Avalanche memukul Moro menuruni gunung, mendarat tepat di atas tenda mereka di Camp I, 5.200 m (17.100 kaki). Beruntung, Moro yang entah bagaimana ceritanya ia tetap di bagian atas puing-puing longsoran dan berhasil ke luar sendiri dari timbunan salju setelah beberapa menit. Tapi ia tak melihat atau mendengar tanda-tanda keberadaan Boukreev atau Sobolev, yang menghilang di bawah balok es seukuran mobil, Moro turun ke base camp Annapurna, lalu diterbangkan helikopter kembali ke Kathmandu untuk mengoperasi tangannya, yang luka robek sampai tendon. Sebelum kecelakaan itu terjadi tanggal 23 Desember 1997, Simone telah terkena frostbite jari kaki dan tangannya, kemudian luka bakar akibat gesekan tali ketika terseret longsoran avalanche itu.  Linda Wylie, rekannya, mencatatkannya dalam buku berjudul Above the Clouds: The Diaries of a High-Altitude Mountaineer, 2002.

Berita kecelakaan sampai New Mexico, pada tanggal 26 Desember, Linda Wylie, pacar Boukreev, berangkat ke Nepal. Pada tanggal 28 Desember, beberapa usaha pencarian dilakukan di lokasi avalanche menggunakan helikopter, namun cuaca buruk pada akhir Desember menghadang tim pencari untuk menuju Camp I. Tanggal 2 januari 1998, lima orang tim rescue dari Army Sport Club Rusia—Boukreev termasuk anggotanya—yang dipimpin oleh Rinat. Khaibullin mencoba melakukan pencarian jasad Boukreev ke lokasi kecelakaan itu. Selama dua pekan usaha pencarian itu tetap tidak membuahkan hasil. Pada tanggal 3 Januari 1998, para pencari akhirnya mampu mencapai Camp I, dan menemui tenda kosong. Dengan rasa sedih yang dalam, Linda Wylie mengeluarkan pernyataan pilu dari Kathmandu : Ini adalah akhir… tak ada harapan untuk menemukannya hidup-hidup. Ternyata jasad the Ghost of Everest itu tak pernah diketemukan lagi, menyusul rekan-rekannya, Scott Fischer, Rob Hall dan Vladimir Baskirov, tewas di Vladimir Baskirov, tewas di Puncak Tengah Lhotse pada tahun 1997.

Sumber: http://cerita-kembara.blogspot.co.id/2014/02/sang-heroik-anatoli-boukreev_20.html

Norman Edwin

Norman Edwin lahir di Sungai Gerong, Sumatera Selatan, pada tanggal 16 Januari 1955, kuliah di jurusan Sejarah Universitas Padjdjaran, Bandung, dan jurusan Arkeologi Universitas Indonesia. Beliau aktif di kegiatan Mapala UI sehingga namanya sepertinya tidak bisa lepas dari organisasi tersebut. Norman memiliki kebiasaan selalu mendokumentasikan dan mencatat perjalanan kegiatannya, yang merupakan ciri penulis tangguh, yang segera dapat dilihat dari tulisannya yang sangat detil, logis, akurat, tapi juga cukup populer dan bebas. Kegiatan kepenulisannya berkaitan dengan pekerjaannya sebagai wartawan, ekspedisi/ peneliti ilmiah, maupun misi search and rescue (SAR). Saya membayangkan ia tetap membuat catatan-catatan kecil tak peduli dimanapun ia sedang berada, di gunung, saat di dalam gua, atau di atas kapal yang senantiasa bergoyang dengan angin laut.

 NORMAN EDWIN.jpg

 

Norman meninggal pada pertengahan April 1992 saat mendaki Gunung Aconcagua (6.959 mdpl) bersama Didiek Samsu Wahyu Triachdi. Pendakian tersebut adalah bagian dari seri pendakian oleh Mapala UI dalam ekspedisi Seven Summit (Aconcagua, Cartensz Pyramid, McKinley di Alaska (Amerika Serikat), Kilimanjaro di Tanzania (Afrika), dan Elbrus di Rusia). Indonesia kehilangan dua pendaki terbaiknya sekaligus.

 

Meninggalnya mereka berdua banyak diliput oleh Media nasional dan international. Kala itu Norman juga menjadi pemimpin dari ekspedisi team MAPALA UI di gunung yg disebut juga ‘The Devil’s Mountain’ itu. Memang banyak juga yang meragukan Norman kala itu, namun berbekal pengetahuan dalam Penelusuran gua, Pendakian Gunung, Pelayaran, Arung Jeram serta sejumlah pengalaman Rescue di Irian Jaya, Kalimantan, Africa, Kanada bahkan Himalaya, membentuk kecepatan dan kekuatan phisik pada dirinya yang telah bergabung di Mapala UI sejak tahun 1977. Sampai akhirnya terpilih menjadi Leader dalam Expedisi ini bersama Didiek, Rudy “Becak” Nurcahyo, Mohamad Fayez and Dian Hapsari, satu satunya wanita dalam team tersebut.

 

Pengalaman selama 15 tahun dalam berpetualang sudahlah cukup bagi Norman untuk tetap berangkat. Saat expedisi berlangsung, badai salju menghantam Team ini dan akhirnya merenggut nyawa dua pendaki ini. Jenazah Didiek ditemukan terlebih dahulu pada tanggal 23 Maret atas laporan beberapa pendaki dari negara lain yang sempat melihat mereka berdua di ketinggian 6400 m, hanya tinggal beberapa ratus meter menuju Puncak Aconcagua. Sedangkan jenazah Norman ditemukan beberapa hari kemudian dan langsung diterbangkan ke Jakarta pada tanggal 21 April 1992.

 

SUMBER : http://infopendaki.blogspot.co.id/2012/03/biografi-norman-edwin-kisah-pendakian.html